Jumat, 24 April 2009

Stop Human Trafficking

Nola Brantley co-founder of MISSSEY will be speaking at Crow Canyon Country Club on Wednesday, May 21. Ms. Brantley ias a dynamic speaker and leader in program development and treatment service development for sexually exploited children in Alameda County.

MISSSEY, Inc. is a non-profit organization based out of Alameda County that was created to respond to the epidemic of the sexually exploitation of children, especially in the form of child/teen prostitution. MISSSEY will dramatically decrease the current gap in SEM-specific services by providing intensive case management, court advocacy, professional & community trainings, comprehensive data reporting and local/state/national education & awareness campaigns.

Soroptimist – An organization dedicated to assisting women and girls, Soroptimist aims to create true social and economic equality for women and girls. As a public service, Soroptimist provides white papers on various topics relevant to women that can help those who wish to become more educated about issues facing today’s women, or learn what can be done to provide direct assistance to women in need. Soroptimist San Ramon Chapter

Related Article:

As the flyer for this lecture says – Look Beneath the Surface

Trafficking Information and Referral Hotline – (888) 373–7888

stop-human-trafficking.gif

Tertangkap lagi..

Setelah membekuk dua warga Ngantang, pelaku trafficking, Susilowati, 32 tahun, warga Desa Pandean, Ngantang dan Suhana, 34 tahun, warga Desa Waturejo, Ngantang. kini Polres Batu memburu SN, 34 tahun, warga Pesanggrahan, Batu. SN diduga kuat terlibat dalam jaringan perdagangan wanita untuk dijadikan pekerja seks komersial di Palangkarya bersama Susilowati dan Suhana.

SN yang telah melarikan diri itu diketahui terlibat dalam kasus perdagangan wanita setelah penyidik Satuan Reskrim Polres Batu mendengar keterangan Susilowati dan Suhana. Dalam keterangannya, SN berperan sebagai pencari wanita.

Susilowati dan Suhana  di Mapolres Batu.

Susilowati dan Suhana di Mapolres Batu.

Keterlibatan SN juga diketahui dari keterangan korban perdagangan perempuan yang baru saja di gagalkan Polres Batu. Dalam aksinya, SN menipu korbannya bahwa dipekerjakan di restoran di Palangkaraya.

Kasat reskrim Polres Batu, AKP Decky Hermansyah mengatakan, peran SN berada dibawah Susilowati dan Suhana. “Dia ( SN) juga ikut secara langsung mencari korban untuk diserahkan kepada dua tersangka yang sudah ditahan (Susilowati dan Suhana),” jelas Decky. SN mudah menjaring korban karena pekerjaannya sebagai tukang ojek. Saat menjalankan pekerjaannya, dia selalu menawarkan pekerjaan haram berkedok pelayan restoran. Hal ini terutama kepada wanita yang tak memiliki penghasilan tetap. Karena diduga kuat terlibat dalam jaringan perdagangan wanita, kini Polres Batu tengah memburunya.“SN sudah tidak ada di Batu lagi. Dia sudah menghilang, tapi kami akan tetap mencarinya,” tandas Decky.

Sedangkan, Sular, warga Ngantang, pengemudi mobil yang membawa enam korban perdagangan wanita saat digagalkan petugas kini masih berstatus sebagai saksi. Namun demikian, Polisi masih terus mengembangkan keterlibatannya. Seperti diberitakan sebelumnya, Polres Batu mengagalkan perdagangan wanita yang dilakukan oleh Susilowati dan Suhana. Enam wanita, dua diantaranya masih berumur 14 tahun nyaris dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial di sebuah lokalisasi di Palangkaraya. Mereka ditipu oleh kedua pelaku akan dipekerjakan sebagai penjaga restoran. (van/mar/malangpost)

Selundupkan Wanita China, Tiga Warga Asing Ditangkap

Penyelundupan

Penyelundupan

JAKARTA – Petugas imigrasi Jakarta Pusat menangkap tiga warga asing dari Hong Kong dan China. Mereka diduga kuat sebagai jaringan perdagangan wanita di bawah umur. Tiga warga negara asing ditangkap kemarin adalah Weng Hou (20 tahun) warga negara Hong Kong, serta Ye Wei (22 tahun) dan Guan Guocheng (48 tahun) keduanya warga negara China.

Mereka ditangkap karena diduga kuat sebagai jaringan perdagangan wanita di bawah umur untuk diperkerjakan dan diperdagangkan di tempat hiburan di wilayah Jakarta.

Tim penyidik Imigrasi yang mendapatkan laporan sejak lama baru berhasil mendapatkan barang bukti dan menangkap ketiga WNA ini di salah satu apartemen di Mangga Dua, Jakarta Pusat. Mereka diperkirakan sudah setahun ini beroperasi dan melakukan usaha perdagangan wanita.

Di sisi lain, tujuh warga Afganistan ditangkap petugas Imigrasi Jambi, Jumat (27/3), karena tak memiliki dokumen resmi. Mereka ditangkap saat akan bertolak dari Bandar Udara Sultan Thaha Jambi menuju Jakarta. Ketujuhnya mengaku datang ke Indonesia karena perang tengah terjadi di negara mereka.

Penangkapan berawal dari kecurigaan petugas bandara. Ketika itu, tak ada satu pun yang bisa berbahasa Indonesia. Ketujuhnya juga tak memiliki paspor. Meski begitu, mereka mengatakan tak ingin pulang ke Afganistan dan ingin mencari pekerjaan di Indonesia. Hingga kini, petugas masih mengusut motif kedatangan mereka dan kemungkinan terkait dengan terorisme.

Rabu, 22 April 2009

Apakah Korban Manusia dan Sosial akibat perdagangan manusia?

Para korban Perdagangan Manusia mengalami banyak hal yang mengerikan.  Luka fisik dan psikologis, termasuk penyakit dan pertumbuhan yang terhambat, seringkali meninggalkan pengaruh permanen yang mengasingkan para korban  dari keluarga dan masyarakat mereka. Para korban Perdagangan Manusia seringkali kehilangan kesempatan penting mereka untuk mengalami perkembangan sosial, moral, dan spiritual. Dalam banyak kasus eksploitasi pada korban Perdagangan Manusia terus meningkat: seorang anak yang diperjualbelikan dari satu kerja paksa dapat terus diperlakukan dengan kejam di tempat lain. Di Nepal, para anak gadis yang direkrut untuk bekerja di pabrik-pabrik karpet, hotel-hotel, dan restoran kemudian dipaksa untuk bekerja di industri seks di India. Di Filipina dan banyak negara lain, anak-anak yang awalnya berimigrasi atau direkrut untuk hotel dan industri pariwisata, seringkali berakhir dengan terjebak di dalam rumah-rumah pelacuran. Suatu kenyataan kejam mengenai perdagangan budak moderen adalah para korbannya  seringkali dibawa dan dijual.

Tina, seorang anak berusia belasan tahun dari desa pedalaman Indonesia, berhutang ratusan dolar untuk selama empat bulan mengikuti pelatihan pembantu rumah tangga dan tinggal selama lebih dari empat bulan di sebuah pusat tenaga kerja Indonesia. Dari sana, Tina, seperti kebanyakan gadis Indonesia lainnya, diangkut ke Malaysia dengan keyakinan akan bekerja sebagai  pembantu rumah tangga bagi pasangan Malaysia. Dipaksa untuk bekerja hingga 15 jam sehari dalam bisnis keluarga dimana ia tidur di lantai, Tina diberitahu bahwa gajinya akan ditahan hingga ia menyelesaikan dua tahun kontraknya. Setelah berkali-kali diperlakukan dengan kejam secara fisik, ia mencari tempat perlindungan di penampungan korban milik LSM Malaysia. Tina telah  melaporkan kasusnya kepada polisi  dan dia telah diberi perpanjangan visa imigrasi supaya   dapat melanjutkan  kasusnya melawan majikannya di Malaysia.

Para korban yang dipaksa dalam perbudakan seks seringkali  dibius dengan obat-obatan dan menderita kekerasan yang luar biasa. Para korban yang diperjualbelikan untuk eksploitasi seksual menderita cedera fisik dan emosional akibat kegiatan seksual yang belum waktunya, diperlakukan dengan kasar, dan menderita penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seks termasuk HIV/AIDS. Beberapa korban menderita cedera permanen pada organ reproduksi mereka. Selain itu, korban biasanya diperdagangkan di lokasi yang bahasanya tidak mereka pahami, yang menambah cedera psikologis akibat isolasi dan dominasi. Ironisnya, kemampuan manusia untuk menahan penderitaan yang amat buruk dan terampasnya hak-hak mereka malah membuat banyak korban yang dijebak terus bekerja sambil berharap akhirnya mendapatkan kebebasan.

Perdagangan Manusia adalah Pelanggaran Hak Asasi Manusia, Pada dasarnya, Perdagangan Manusia melanggar hak asasi universal manusia untuk hidup, merdeka, dan bebas dari semua bentuk perbudakan. Perdagangan anak-anak merusak kebutuhan dasar seorang anak untuk tumbuh dalam lingkungan yang aman dan merusak hak anak untuk bebas dari kekerasan dan eksploitasi seksual.

Apakah itu perdagangan Manusia?

Protokol Perserikatan Bangsa-bangsa untuk Mencegah, Menekan dan Menghukum Perdagangan Manusia, khususnya pada wanita dan Anak-anak (salah satu dari tiga “Protokol Palermo”), mendefinisikan Perdagangan Manusia sebagai:

Perekrutan, pengiriman, pemindahan, penampungan atau penerimaan seseorang, dengan ancaman atau penggunaan kekerasan atau bentuk-bentuk lain dari pemaksanaan, penculikan, penipuan, kebohongan, atau penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan atau memberi atau menerima pembayaran atau memperoleh keuntungan agar dapat memperoleh persetujuan dari seseorang yang berkuasa atas orang lain, untuk tujuan exploitasi. Exploitasi termasuk, paling tidak, exploitasi untuk melacurkan orang lain atau bentuk bentuk lain dari exploitasi seksual, kerja atau pelayanan paksa, perbudakan atau praktik-praktik serupa perbudakan, perhambaan atau pengambilan organ tubuh.

Banyak Negara   keliru dalam memahami definisi ini dengan melupakan perdagangan manusia dalam Negara atau menggolongkan migrasi tidak tetap sebagai perdagangan . TVPA menyebutkan “bentuk-bentuk perdagangan berat” didefinisikan sebagai:

a.            perdagangan seks dimana tindakan seks komersial diberlakukan secara paksa, dengan cara penipuan, atau kebohongan, atau dimana seseorang diminta secara paksa melakukan suatu tindakan demikian belum mencapai usia 18 tahun; atau

b.            merekrut,  menampung, mengangkut, menyediakan atau mendapatkan seseorang untuk bekerja atau memberikan pelayanan melalui  paksaan, penipuan, atau kekerasan untuk tujuan  penghambaan, peonasi, penjeratan hutang (ijon) atau perbudakan.

Dalam definisi-definisi ini, para korban tidak harus secara fisik diangkut dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Definisi ini juga secara jelas berlaku pada tindakan merekrut, menampung, menyediakan, atau mendapatkan seseorang untuk maksud-maksud tertentu.

Kamis, 16 April 2009

Manusia Bukan Objek Perdagangan

Membaca sebuah berita tentang human trafficking di situs Deplu, saya teringat masa-masa saya sedang menulis skripsi pada tahun 2006. Pada waktu itu saya memilih untuk mengangkat tema “Perdagangan Wanita” karena keprihatinan saya dengan marak terjadinya perdagangan perempuan. Keadaan pada saat itu diperparah dengan tidak adanya suatu aturan hukum yang mengatur masalah perdagangan orang di Indonesia.

Namun, pada saat ini dengan telah disahkannya Undang-Undang No. 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Terhadap Tindak Pidana Perdagangan Orang (UU PTPPO), diharapkan penanganan terhadap terjadinya perdagangan orang akan semakin membaik.

Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Kantor Pengawasan dan Pemberantasan Perdagangan Orang di Amerika Serikat, setiap tahunnya diperkirakan sebanyak 600.000 – 800.000 laki-laki, perempuan, dan anak-anak menyeberangi perbatasan-perbatasan internasional dan sampai saat ini masih terus berkembang. Sebagian dari orang-orang ini memang sengaja diselundupkan dengan tujuan memasok pasar perdagangan seks internasional dan buruh yang dilakukan melalui jaring kejahatan internasional (transnational crime) yang terorganisasi secara rapi baik melalui jalur negara perantara maupun langsung.

Sebagian besar korban perdagangan orang berasal dari masyarakat golongan ekonomi rendah dengan tingkat pendidikan yang juga rendah. Hal ini disebabkan karena dalam perdagangan orang para pelaku kerap menipu para korbannya. Mereka mengiming-imingi para korban dengan gaji yang tinggi, pekerjaan yang menyenangkan, atau pekerjaan di luar negeri. Namun pada akhirnya, para korban harus menerima kenyataan pahit dan justru menjadi korban dari suatu sindikat perdagangan wanita atau buruh.

Jika melihat sejarah ke belakang, perdagangan orang sebenarnya merupakan praktek kejahatan yang telah terjadi sejak lama di Indonesia. Pada jaman raja-raja Jawa, perempuan diperdagangkan untuk kebutuhan seks. Perempuan dianggap sebagai barang dagangan untuk memenuhi nafsu lelaki dan untuk menunjukkan adanya kekuasaan dan kemakmuran.

Kemudian pada masa penjajahan Belanda, hal ini menjadi lebih terorganisir dan berkembang pesat. Para perempuan digunakan untuk memenuhi kebutuhan seks masyarakat Eropa. Demikian pula pada masa pendudukan Jepang, komersialisasi seks terus terjadi. Selain memaksa para perempuan pribumi dan perempuan Belanda untuk menjadi pelacur, Jepang juga membawa banyak perempuan dari Singapura, Malaysia, dan Hong Kong ke Jawa untuk melayani para perwira tinggi Jepang.

Menyedihkan, bahkan sampai saat ini jumlah perdagangan orang yang terjadi di Indonesia terus berkembang sehingga menempatkan Indonesia pada peringkat terendah dalam upaya penanggulangan perdagangan orang.

Kenyataan ini tentunya sangat memprihatinkan mengingat manusia sesungguhnya bukan merupakan komoditi perdagangan. Sebagai mahluk Tuhan yang paling mulia seharusnya manusia saling menjaga harkat dan martabat sesamanya. Bukan malah merendahkannya.

Suatu kenyataan yang tidak menyenangkan bahwa ternyata Indonesia merupakan daerah rawan terjadinya perdagangan orang. Indonesia bukan hanya negara asal perdagangan orang namun juga telah menjadi negara tujuan dan negara transit. Hal ini dikarenakan oleh letak Indonesia yang strategis.

Dalam prakteknya, pelaku perdagangan orang melibatkan banyak pihak, termasuk aparat pemerintahan dan keluarga korban sendiri. Seperti yang telah diuraikan di atas, adanya desakan ekonomi dan tingkat pendidikan yang rendah merupakan faktor utama terjadinya perdagangan orang. Hal ini yang mengakibatkan beberapa orang tega untuk menjual anggota keluarganya sendiri.

Yang paling menderita dengan terjadinya perdagangan orang adalah para korban itu sendiri. Oleh karena itu, sudah sepantasnya bagi para korban perdagangan orang mendapatkan perhatian khusus. Hal ini diperlukan untuk mengembalikan kepercayaan diri mereka karena kebanyakan dari mereka mengalami perlakuan tidak menyenangkan dalam bentuk eksploitasi seksual maupun fisik.

Terhadap para korban ini, selain diperlukan rehabilitasi dari segi mental juga perlu diberikan berbagai pendidikan dan keterampilan. Tidak lain sebagai upaya untuk menyiapkan mereka untuk kembali ke masyarakat dan dapat bertahan hidup.

Selanjutnya, terhadap para pelaku perdagangan orang, di dalam UU PTPPO telah diatur mengenai mekanisme penjatuhan sanksi pidana penjara dan denda. UU PTPPO ini bagi banyak orang memang diharapkan dapat menjadi angin segar untuk menekan terjadinya perdagangan orang.

Polda Sumut Bongkar Sindikat Perdagangan Wanita

Oleh : Rahmi

Polda Sumatera Utara berhasil menguak sindikat perdagangan wanita di Bandar Baru, Sibolangit, Sumatera Utara. Pencarian korban terus dilakukan setelah, Senin (18/02), ditemukan empat perempuan muda asal Jawa Barat.

Wadir Reskrim Polda Sumatera Utara AKBP Dermawan Sutawijaya mengatakan, jumlah korban perdagangan akan terus bertambah. "Menurut para korban, jumlah wanita yang dijual ada sepuluh orang," ujar Dermawan pada pers, kemarin (19/02).

Dari para korban diperoleh informasi, ada sekitar sepuluh orang lagi di barak Eka Bandar Baru. Kesemuanya berasal dari Jawa Barat dan Jawa Timur. Pemilik barak Eka, Mulyanto Sembiring (45) resmi ditahan bersama dua tersangka lain, Asnan Simbolon dan Zainal Pakpahan.

Sebelumnya, Mulyanto pernah ditahan pada kasus yang sama. Istri Mulyanto, Tari, juga pernah bermasalah dalam kasus trafficking di Polres Cilacap, Jawa Tengah. Mereka bekerja sama mengeksploitasi wanita asal Jawa untuk dijadikan PSK di Bandar baru.

Sebanyak 19 TKI illegal yang siap diberangkatkan ke Malaysia, juga berhasil digagalkan oleh Poltabes Barelang, Batam, Selasa (19/02) siang, di pelabuhan Feri Internasional Batam Center.

Menurut Kasat Reskrim Poltabes Barelang Kompol Herry Heryawan, mereka berangkat ke Malaysia tanpa melalui agen atau PJTKI. Modalnya hanya paspor untuk melancong. Saat ini tiga orang (Jaswadi, Piliang dan Alefri) dinyatakan sebagai tersangka. Mereka ditangkap saat mengurus keberangkatan 19 wanita asal Madura tersebut. Sementara satu orang yang bertugas memberangkatkan dari Sampang Madura masih DPO.

Ketiganya akan dijerat UU No 21/2007 tentang Pemberantasan Tindak pidana Perdagangan Manusia dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun.

Sebelumnya, minggu lalu KBRI Kuala Lumpur dan polisi Malaysia berhasil membongkar praktik perdagangan manusia dan menyelamatkan enam perempuan Indonesia yang dipekerjakan sebagai wanita penghibur atau bisnis pelacuran di hotel-hotel di Kuala Lumpur. (Nazz/RM)

 

Polisi Tangkap 15 Tersangka Perdagangan Wanita dan Anak

TEMPO Interaktif, Jakarta: Kepolisian telah menangkap 15 orang tersangka kasus perdagangan wanita dan anak-anak pada 25 April lalu. Saat ini 15 tersangka itu masih ditangani oleh penyidik. "Mereka sudah ditahan," kata Kepala Bidang Penerangan Umum, Komisaris Besar Polisi Bambang Kuncoko kepada wartawan di Markas Besar Kepolisian, Selasa (29/5). 


Bambang mengatakan, 15 tersangka tersebut adalah NH, BT, DA, DN, MY, SW, HY, ZB, AD, LW, SL, JW, MS, AR, TM, dan AJ semuanya berkewarganegaraan Indonesia. Mereka memperdagangkan wanita dan anak-anak asal Sukabumi dan Subang Jawa Barat untuk dijadikan pekerja seks di Malaysia. 

Wakil Direktur I Bidang Keamanan dan Trans Nasional, Bachtiar Tambunan menambahkan, modus tersangka tersebut adalah menjanjikan pekerjaan diluar negeri dengan gaji besar. "Modusnya mereka membujuk para wanita didaerah untuk bekerja diluar negeri dengan gaji besar," kata dia. 

Diantara para tersangka, ada yang membujuk korban dengan mengatasnamakan perusahaan berinisial KSP. KSP memasang iklan di media atau langsung mendatangi korban kedaerah-daerah lewat perantara. Namun, dari hasil penyelidikan diketahui bahwa perusahaan tersebut fiktif. Kepolisian juga berhasil menangkap lima orang tersangka pembuat dokumen palsu pada 12 Mei lalu. Para tersangka ditangkap diwilayah Kuala Tungkal Jambi, Batam, dan Subang. 

DESY PAKPAHAN

Kisah Inspiratif Dari Desa

Sebut saja namanya Bunga, belum genap 17 tahun. Ketika anak-anak Indonesia merayakan keriangan Hari Anak Nasional, Bunga justru bergelut dengan dingin menunggu panggilan. Padahal beberapa bulan yang lalu, dia masih bermain dengan teman sebaya di kampung halamannya di Kudus, Jawa Tengah setelah lulus dari sebuah SMP Negeri tidak jauh dari rumahnya. .... Ayah Bunga sudah lama meninggal, ibunya menikah lagi. Sang ibu meminta keponakannya yang bekerja di Jakarta agar mencarikan pekerjaan bagi Bunga. Melalui kenalan keponakannya, Bunga bekerja di sebuah panti pijat plus-plus tidak jauh dari Stasiun Kota, Jakarta Barat. Kini, hari-harinya dijalani dengan melayani pria hidung belang di panti pijat itu. "Sehari, paling tidak, empat tamu," ujarnya. (disarikan dari Koran Tempo, Kamis 24 Juli 2008 halaman B1). [thanks to paklik Mochammad Nadjib untuk artikel-nya :)]

masalah memang sudah sangat kompleks paklik ...tapi intinya ya masalah kemiskinan yang sudah menjadi endemi bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. modus pun gak jauh berbeda jika dibandingkan dengan daerah Indramayu yang sudah terkenal dengan [maaf] sebagai ''pemasok wanita muda''masalah ekonomi ... di desa susah mendapatkan uang-cash. panen (padi) pun harus menunggu sampe 3 bulan. itu pun kalo masih ada ''sisa'' setelah dikurangi oleh utang kepada oknum rentenir. Apakah di Kudus sudah itu ? Masih banyak petani kah ?

lepas dari itu, pergaulan yang sudah menggelobal. pengaruh film. dan yang paling parah ... para ''pedagang'' wanita muda sudah ''membuka cabang/agen'' sampe ke pelosok desa. dengan iming2 akan dijadikan penjaga toko, pelayan rumah makan dll. pekerjaan informal sudah banyak kita baca di media-massa. Bagaimana cara mencegah ini ?berantas kemiskinan, perangi kebodohan, seperti lagu yang sering muncul di TVRI jaman tahun 80-an. sayang sekali hanya lagu, pancen gak mudah ya, cuman saya secara pribadi juga gak punya cara yang ampuh dan jitu. hanya ada cara awam saja, mulai dari diri sendiri, mulai saat ini, mulai dengan yang sederhan/kecil dulu.prakrek-nya silakan dirancang sendiri-sendiri, hanya ada hal yang nampaknya bisa menjadi alternatif yaitu potensi zakat dan sodakoh dari warga Kudus (yang ada di Kudus maupun yang ada di luar Kudus). Misalkan saja 1 orang memberikan Rp 100,000 per bulan, dengan 500 orang Kudus, terkumpullah Rp 50juta per bulan. Itu bisa dijadikan sumber modal bergilir untuk usaha mikro yang mengelola ya kira-kira lembaga amil-zakat atau ke Baitul-Maal wataamwil yang ada di sana.

Mari kita peduli terhadap pemberantasan perdagangan wanita dengan membuat sebuah program yang dapat memberdayakan wanita-wanita di Indonesia. Posting kan ide-ide yang berguna untuk pemberdayaan wanita. Jika kita tidak bisa mengimplementasikannya, pasti akan ada orang lain yang bisa.

Semoga Tuhan selalu menyertai..

Salah Satu Kegiatan Pemberdayaan Wanita

Propinsi Jawa Barat termasuk dalam daerah yang tertinggi dalam perdagangan perempuan  bersama sejumlah propinsi lainnya di Indonesia antara lain, Kalimatan Barat (Kalbar), Jawa Timur (Jatim), Nusa Tenggara Barat (NTB), Sumatera Utara (Sumut) dan Kepulauan Riau. Perempuan yang diperjualbelikan tersebut adalah perempuan yang berusia di bawah 18 tahun, 43.5% korban dijual pada usia 14th [1]. Dengan iming-iming akan diberikan pekerjaan dengan upah yang cukup besar. mereka dibawa ke luar negeri, seperti, Malaysia, Taiwan, Singapore dan negara-negara Timur Tengah.

Kemiskinan adalah salah satu pemicu kaum perempuan itu  bekerja  di luar negeri, ditambah lagi pendidikannya yang sangat minim, karena tidak ada biaya untuk meneruskan sekolah sehingga banyak para perempuan ini putus sekolah, padahal 60% siswa perempuan menempati ranking 10 besar di sekolah mereka[2]. Di samping itu terjadinya pernikahan dini akibat paksaan perjodohan telah membuat banyak para perempuan menjadi janda,  kurangnya pengetahuan para orang tua tentang praktik tindak pidana jual beli kaum perempuan. Semua itu merupakan faktor pendukung memuluskan perdagangan ini terjadi. Dengan semangat ingin membantu keluarga keluar dari rana kemiskinan, maka perempuan-perempuan yang mayoritas berasal dari desa ini termakan oleh rayuan dan janji para broker untuk dibawa, dilabuhkan, dan bekerja di luar negeri.

Beberapa contoh Korban

Cisuren sebuah  desa terpencil di Cianjur Selatan, ada beberapa perempuan yang stres bahkan gila. Menurut keterangan tetangganya, mereka adalah mantan TKI yang yang sangat tidak beruntung, Yuliar (nama samaran), sudah menjanda saat usia 16 tahun, bercerai dari suami pilihan orang tua yang dinikahkan semasa Sekolah Dasar. Pada saat dalam situasi yang gamang dan keadaan orang tua tidak mempunyai pekerjaan, datanglah seseorang dari sebuah agen tenaga kerja yang menawarkan pekerjaan di luar negeri, dalam kurun waktu yang sangat singkat maka  Yuliar berangkat ke Timur Tengah sebagai pembantu rumah tangga.  Selama bekerja di sana , dia sangat menderita karena sering mendapat siksaan dari majikannya, sampai pada suatu hari dia mempunyai kesempatan untuk lari dari pekerjaan tersebut. Dengan bantuan Kedutaan Besar Republik Indonesia maka Yuliar kembali ke Indonesia dengan  kondisi upah yang tidak dibayarkan selama 2 tahun. Usaha untuk mendapatkan upah tersebut sudah dilakukan, namun apa daya Yuliar hanyalah perempuan desa yang tidak mempunyai kemampuan dan pengetahuan untuk memperjuangkan haknya. Merasa dirinya tertipu dan tidak berdaya, maka Yuliar sering berdiam diri, menangis, dan marah-marah serta tidak peduli lagi dengan lingkungan sekitarnya.

Lain lagi dengan Syarifarini (nama samaran), gadis berusia 16 tahun dari desa yang sama tinggal bersama ibu dan tiga adiknya masing-masing berusia 4 tahun, 3 tahun dan 1 tahun. Gadis periang ini sudah ditinggal ayahnya sejak dia berumur 4 tahun. Dia terpaksa tidak bisa menyelesaikan Sekolah Dasarnya karena tidak mempunyai biaya. Gadis lugu dan cantik ini sudah bekerja  pada saat usia 10 tahun dengan menjual gorengan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya. Pada usia 16 tahun ditawarkan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di luar Negeri oleh seorang agen tenaga kerja. Dengan bertekad untuk memperbaiki ekonomi keluarga maka Syarifarini pergi dengan tidak ada pembekalan ilmu yang memadai, empat bulan pertama, dia sering mengirim uang kepada ibunya, sayang kebahagiaan itu tidak berumur panjang, karena kemudian Syarifarini setelah itu sering mendapatkan siksaan dengan alasan kerjanya tidak baik. Syafarini tiba-tiba sampai di desanya kembali dan tanpa diketahui siapa yang mengantarnya. Syarifarini tidak bisa ditanyakan apa-apa karena gadis desa ini sudah hilang ingatannya. 

Contoh di atas, dapat dilihat dari upaya-upaya beberapa oknum makelar TKI yang dengan sengaja memanfaatkan kebodohan masyarakat untuk keuntungan pribadi yang sesaat. Dengan iming-iming, akhirnya perempuan belia yang tidak tahu, terbujuk dan tidak jarang terjebak dalam permainan hutang-piutang karena harus menggantikan uang kepada agen atas biaya selama di penampungan termasuk uang tiket pemberangkatan.

Ada beberapa tenaga kerja yang direkrut Agen TKI secara formal yang kemudian di tampung dan dilatih sebelum diberangkatkan ke Negara tujuan. Namun demikian pelatihan yang diberikan sangatlah minim dan belum memenuhi bahkan kadangkala jauh dari standar pekerjaan di luar negeri. Kemampuan penguasaan bahasa asing yang tidak memadai adalah penyebab seringnya terjadi miskomunikasi, salah pengertian antara pekerja dan majikan menimbulkan masalah yang cukup fatal; penyiksaan, penganiayaan dalam berbagai bentuk. Pelatihan yang dilakukan oleh agen-agen tenaga kerja tersebut tidak berdasarkan kepadaassessment spesifikasi pekerjaan yang ditawarkan sehingga akhirnya kemampuan para TKI yang dikirim tidak memenuhi criteria yang diharapkan orang yang mempekerjakannya.  

Perlu Sinergi semu Pihak

Melihat fenomena ini, yang terjadi harus dilakukan adalah pencegahan terhadap praktek-praktek traficking, advokasi  dan rehabilitasi korban, misalnya beberapa kasus yang telah mengalami gangguan jiwa.

Tentu semua pihak harus ambil bagian dalam menangani persoalan bangsa ini. Pemerintah dengan aparatnya yang kuat, harus dapat membuat regulasi yang mapan terhadap praktek-praktek penyalahgunaan izin TKI. Penyalur TKI, harus benar-benar bekerja untuk memajukan bangsa dengan menempatkan calon TKI di tempat yang selayaknya perempuan bekerja, dan tidak mementingkan diri sendiri hanya mengeruk keuntungan semata. Pelatihan harus bisa menjadikan calon TKI terampil dalam lapangan pekerjaannya termasuk memperhatikan standard bahasa yang akan digunakan.

Tokoh masyarakat dan tokoh agama juga diharapkan bisa menjadi tokoh lokal yang mengayomi masyarakat. Dengan melihat satu persatu kasus ini, dan berupaya menghindari adanya pihak-pihak tertentu yang mencari perempuan di kampung-kampung. Tokoh-Tokoh ini khususnya tokoh agama dapat membantu masyarakat memahami nilai-nilai agama yang akan membuka mata batin setiap masyarakat agar tidak terjebak pada iming-iming yang menjerumuskan. Dengan demikian, kedua tokoh ini telah berperan sebagai benteng pencegahan dan sekaligus  dapat berperan sebagai media antara pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan sosialisasi program-program pemberdayaan, dan  undang-undang.  

Semisal UU No.21 th 2007. pasal 2 , "Setiap orang yang melakukan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan hutang atau memberi bayaran manfaat walaupun memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain, untuk tujuan eksploitasi pidana penjara 3 tahun min, max 15 th, min denda 120 juta max 600 juta."  UU tersebut akan membantu pemerintah daerah (Pemda) setempat untuk mengatasi persoalan itu. Di dalam UU tersebut, membahas juga eksploitasi jasa dan eksploitasi mempergunakan alat tubuh seperti kaum perempuan yang diperjualbelikan, karena telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia.   

Pembangunan Berbasis Desa

Istilah ini tentu bukan hanya difokuskan pada salah satu program yang terfokus di desa. Tapi semangat untuk membangun dari struktur pemerintah paling kecil adalah sebuah keniscayaan. Menstimulasi perekonomian di masyarakat khususnya di desa-desa pada sektor riil harus dilakukan.  Belakangan program PPK (Program Pembangunan Kecamatan), PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) Mandiri, P2IP (Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan), P2DTK (Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus) dan banyak lagi program lain mulai dari bidang infrastruktur sampai dengan sektor pertanian, telah ada, namun program-program ini perlu benar-benar menyentuh keluarga-keluarga miskin di desa-desa.

Pembangunan berbasis desa sebenarnya bukan barang baru dalam skema rencana anggaran kementerian dan lembaga (RKA-KL) yang termaktub dalam APBN. Hampir disetiap Departemen/Kementerian memiliki program khusus berbasis desa, yang paling kentara adalah sektor Infrastruktur tepatnya Departemen Pekerjaan Umum dan Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal serta Kementerian Perumahan Rakyat. Namun seringkali besaran anggaran tidak memadai jika dibandingkan dengan coverage area yang harus ditangani.

Pemberdayaan perempuan

Melihat persoalan-persoalan di atas, seyogyanya bahwa program wajib belajar harus digalakkan, tidak hanya 9 tahun namun menjadi 12 tahun tanpa dikenakan biaya apapun khusunya di pedesaan. Dengan adanya program ini, generasi mudah Indonesia telah mempunyai bekal pendidikan dasar untuk mandiri, paling tidak mencari pekerjaan yang memadai untuk dapat meneruskan pendidikan  ke jenjang berikutnya ataupun meningkatkan taraf hidup ekonomi maupun status sosial keluarga miskin. Inilah salah satu alasan mengapa anggaran pemerintah di bidang pendidikan harus ditingkatkan secara progresif dari tahun ke tahun. Pendidikan gratis ini hendaknya penerobos sekolah-sekolah di pedesaan dengan sasaran keluarga miskin dan menengah yang mengakomodir lebih bayak anak perempuannya. Selain 60% perempuan menempati ranking 10 besar di sekolah-sekolah, juga jika perempuan mendapatkan kesempatan lebih banyak untuk mengeyam pendidikan, maka dia akan lebih mampu mengelolah proses kegiatan keluarga dan mendidik anak-anaknya kelak yang artinya perempuan turut berperan mencerdaskan bangsa ini. Seperti yang dikumandangkan di fora internasioanal sebuah keyakinan tentang peran perempuan "....when you educate a man you educate one person, when you educate a women you educate generation...."[3].

Bagi perempuan usia dewasa yang sudah terlanjur putus sekolah dan mampu bekerja, hendaknya disediakan dana bantuan secara cuma-cuma untuk menjalankan ekonomi produktif, melalui PKK yang dipimpin oleh istri seorang camat dan kepala desa, kegiatan ekonomi perempuan bisa diberdayakan. Berbasis kepada industri kerajinan dari daerah setempat, maka kegiatan ini akan memacu dan mengarahkan para perempuan lebih mandiri.  Program terpadu  antar departemen di pemerintahan dan lembaga swadaya masyarakat sangat diperlukan untuk menopang pemberdayaan ekonomi perempuan ini. Pendampingan dari pemberi dana ataupun mitranya dalam mengelola kegiatan ekonomi produktif  ini sangat dibutuhkan agar bermuara kepada manajemen yang dapat dipertanggungjawabkan.

Adanya kementrian Pemberdayaan Perempuan merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap perempuan Indonesia yang berdaya. Dilihat dari visinya "Terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender, kesejahteraan dan perlindungan anak dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara." Maka selayaknya, harus benar-benar programnya berjalan dan bisa menyentuh mayoritas perempuan Indonesia yang berada di pedesaan. Keberadaan kementrian ini harus dioptimalkan dan tentu saja tidak menafikan beberapa program yang telah berjalan saat ini. Semoga perempuan Indonesia semakin maju dan terberdayakan.[]    
 

[1] Tempointeraktif.com,7 April 2008, 15.24 WIB

[2] Media Indonesia sabtu,21 April 2007.

[3] Koran Pelita, Senin 23 April 2007.Hal 4

Terbongkar Kasus Perdagangan Wanita

indosiar.com, Yogyakarta - Para Poltabes Yogyakarta membengkuk pelaku human trafficking (perdagangan manusia antar benua). Dari hasil penyelidikan pelaku berencana mengirim para korban ke negeri Belanda, untuk dijadikan wanita penghibur dengan tarif 200 Euro per 8 jam.

Usai penyidikan awal, aparat Poltabes Yogyakarta Senin (12/1/08) kemarin membawa Sofiah Hidayat, untuk pengembangan kasus human trafficking atau perdagangan manusia antar negara.

Pengembangan dilakukan setelah hari Minggu lalu aparat Poltabes Yogyakarta menangkap Sofiah di Temanggung, Jawa Tengah karena diduga sebagai  pelaku perdagangan manusia. Penangkapan sendiri dilakukan setelah polisi melakukan penyelidikan adanya dugaan praktek perdagangan manusia di Yogyakarta.

Dari penyelidikan inilah polisi menangkap Sofiah Hidayat yang berencana mengirim 2 wanita berinisial R dan A, asal Temanggung dan Semarang, Jawa Tengah untuk dijadikan wanita penghibur dinegeri Belanda. Polisi juga menyidik Setiawan, tetangga pelaku yang membantu pembuatan paspor para korban.

Dari tangkap pelaku aparat mengamankan barang bukti handphone, kamera berisi foto bugil para korban, surat pernyataan, dan mobil yang digunakan pelaku untuk beroperasi. Dalam aksinya pelaku mencari mangsa di salon, spa dan tempat hiburan malam dengan menjanjikan upah 200 Euro per 8 jam atau 25 Euro per jamnya.

Polisi menduga sebelum ditangkap tersangka sudah banyak mengirim wanita ke Belanda, karena selama ini pelaku dibantu suaminya yang tinggal di Belanda. Atas perbuatannya pelaku dijerat Undang - Undang no. 21 tahun 2007 tentang perdagangan manusia dengan ancaman 15 tahun penjara. (Mas'ud Pahlevi/Dv).

 

Red Light, Green Light: Global Tentu Perdagangan Perempuan

Oleh Judith Mirkinson

[This article originally appeared in the Spring 1994 issue of Breakthrough, a political journal published by Prairie Fire Organizing Committee.Artikel ini awalnya muncul pada musim semi 1994 isu terobosan, politik jurnal yang diterbitkan oleh Prairie Fire Organizing Committee. To respond to the article, to order a copy of the publication, or to subscribe, please send mail to pfoc@igc.apc

Entertainment girls, hospitality girls, prostitutes, massage girls, it all means the same thing.Hiburan gadis, gadis perhotelan, pelacur, gadis pijat, itu berarti semua hal yang sama. They're part of the globalization of the world's economy. They're bagian dari globalisasi dunia ekonomi. Goods to be shipped across borders, through one airport to another, sometimes overland. Commodities in a multibillion dollar industry. Barang yang akan dikirim di perbatasan, melalui satu ke bandara lain, kadang-kadang melalui darat. Komoditas multibillion dolar dalam industri. Only the products are women and children being sold for profit. Hanya produk adalah perempuan dan anak-anak yang dijual untuk keuntungan. We're talking here about international sex trafficking. Kami berbicara di sini tentang seks perdagangan internasional.

There are several categories of trafficking. Ada beberapa kategori perdagangan. The first and largest (which this article will concentrate on) is that of the transnational sex industry: international prostitution. Pertama dan terbesar (yang artikel ini akan berkonsentrasi pada) adalah bahwa dari industri transnasional seks: prostitusi internasional. There is also the mail-order bride industry. Ada juga surat-urutan calon industri. The other main category is that of exporting workers in exchange for foreign capital to be sent back home. Kategori utama yang lainnya adalah pekerja di ekspor pertukaran untuk modal asing yang akan dikirim kembali ke rumah. In the case of women, these are usually domestic workers or nurses. Dalam kasus perempuan, yang biasanya PRT atau perawat. The women all perform services that are deemed necessary and vital to the host countries, yet they live in the margins, more often than not, invisible. Perempuan melakukan semua layanan yang dianggap perlu dan penting untuk negara-negara tuan rumah, namun mereka tinggal di margin, lebih sering daripada tidak, tidak kelihatan.

The traffick is that of poor women to richer men. The traffick adalah perempuan miskin untuk orang kaya. The flow of poor women from the South to North is the largest, although now there is also an increase of women from the former Eastern bloc. The most frequent destinations for the women are Europe, North America, Japan, Australia, and the Middle East. Aliran perempuan miskin dari Selatan ke Utara yang terbesar, walaupun sekarang ada juga peningkatan perempuan dari bekas blok Timur. Yang paling sering tujuan untuk wanita Eropa, Amerika Utara, Jepang, Australia, dan Timur Tengah .

The women come from rural areas and city slums. Perempuan yang berasal dari daerah pedesaan dan kota kumuh. They are either recruited as tourist workers or are often kidnapped and forced into sexual slavery. Mereka direkrut baik sebagai turis atau pekerja sering diculik dan dipaksa menjadi perbudakan seksual. Others are simply sold outright. Lain hanya dijual secara ikhlas. In some countries there are actual markets where women are sold in the streets. Di beberapa negara terdapat pasar sebenarnya di mana perempuan yang dijual di jalanan. Actually to call most of them women is a misnomer, for often they are young girls, ages 10-15. Sebenarnya untuk panggilan kebanyakan mereka adalah perempuan nama yg salah, bagi mereka sering remaja putri, usia 10-15. Some have not even reached the age of menstruation, many have no idea what sex is. Beberapa bahkan belum mencapai usia haid, banyak tidak tahu apa itu seks.

Think of it. Think of it. You're a young girl brought from Burma, you have been kidnapped or bought. Anda adalah seorang gadis muda yang dibawa dari Birma, yang telah diculik atau dibeli. You're terrified. Anda ketakutan. You have no idea where you are, what country you're in, what's going to happen to you. Anda tidak tahu di mana Anda berada, apa di negara Anda, apa yang akan terjadi kepada Anda. If you haven't been raped along the way (or sometimes even if you have) you're immediately brought to the "Room of the Unveiling of the Virgin." Jika anda belum diperkosa di sepanjang jalan (atau kadang-kadang bahkan jika anda memiliki) Anda segera dibawa ke "Kamar dari pembukaan yang Virgin." There you are raped continuously - until you can no longer pass for a virgin. There you are diperkosa terus - sampai Anda tidak bisa lagi untuk melewati perawan. Then you are put to work. Kemudian anda diletakkan untuk bekerja.

These girls are bought for $400-$800. Gadis ini adalah untuk membeli $ 400 - $ 800. They're told they will have to earn this money back before they can leave the brothel. They're charged for all their clothes, food, and board and usually receive only 20 percent of the money they earn. They're kepada mereka akan mendapatkan uang kembali sebelum mereka dapat meninggalkan rumah. They're semua biaya untuk mereka pakaian, makanan, dan papan dan biasanya hanya menerima 20 persen dari uang yang mereka peroleh. In reality they often earn back four to five times what they owe before the managers tell them they're on their own. Dalam kenyataannya mereka yang sering kembali empat sampai lima kali apa yang mereka wajib sebelum kirim manajer mereka they're mereka sendiri. Once that happens the women are often no better off than before. Setelah itu terjadi pada perempuan seringkali tidak lebih makmur dari sebelumnya. They have no livelihood other than sex work, they have no home, and they've been stigmatized for life. Mereka tidak memiliki mata pencaharian lain selain pekerjaan seks, mereka tidak memiliki rumah, dan mereka telah stigmatized untuk kehidupan.

It's not that any of this is exactly new. It's not bahwa ini adalah benar-benar baru. Women have been bought and sold for thousands of years. Perempuan telah dibeli dan dijual untuk ribuan tahun. We're all only too familiar with the "world's oldest profession." Kami semua hanya terlalu akrab dengan "dunia tertua profesi." Mail-order brides have also been commonplace - did you see The Piano? Mail-order brides juga telah biasa - anda melihat The Piano? But the selling has become more organized and systematized. Tetapi penjualan menjadi lebih terorganisasi dan systematized. It's the scope, money, and reasons involved that make this business one that has reached catastrophic proportions. Ada lingkup, uang, dan alasan yang terlibat melakukan usaha ini yang telah mencapai proporsi bencana.

The numbers are staggering. Angka-angka yang mengejutkan. Here are just a few of the statistics. Berikut adalah hanya beberapa dari statistik. It's estimated that from one to two million women and children are trafficked each year. Ada yang diperkirakan dari satu sampai dua juta perempuan dan anak-anak trafficked setiap tahun. During a 1991 conference of Southeast Asian women's organizations, it was estimated that 30 million women have been sold worldwide since the mid-70s. Selama 1991 dari konferensi Asia Tenggara organisasi perempuan, maka diperkirakan 30 juta perempuan yang telah terjual di seluruh dunia sejak pertengahan 70s. Over 100,000 women are shipped each year to Japan to serve in indentured servitude in bars and brothels. Lebih dari 100.000 perempuan setiap tahunnya yang dikirim ke Jepang untuk melayani di indentured perbudakan di bar dan brothels. Thousands of young women and girls are sent from Nepal to India and from Burma to Thailand. Ribuan perempuan muda dan perempuan akan dikirim dari Nepal ke India dan dari Burma ke Thailand. In the past year 200,000 women have been sent from Bangladesh to Pakistan. Young women have been found in China on their way to the brothels of Bangkok. Dalam satu tahun terakhir 200.000 perempuan telah dikirim dari Indonesia ke Pakistan. Young perempuan telah ditemukan di Cina dalam perjalanan mereka ke brothels di Bangkok. Women from Latin America and Africa are turning up in Thailand and Europe, just as those from Latin America and the Caribbean are shipped to the US, although a real study of the traffick into the US and Canada hasn't been done. Perempuan dari Amerika Latin dan Afrika akan kembali di Thailand dan Eropa, sama seperti yang berasal dari Amerika Latin dan Karibia dikirimkan ke AS, meskipun sebenarnya belajar dari traffick ke Amerika Serikat dan Kanada belum selesai. These numbers mostly exclude the issue of internal trafficking for "domestic consumption." Angka ini umumnya mengecualikan masalah internal perdagangan untuk konsumsi dalam negeri. "

How did these numbers come about? Bagaimana angka ini terjadi?

During the 60s and 70s tourism became one of the big industries for developing nations. Selama 60s dan 70s pariwisata menjadi salah satu industri besar untuk pembangunan bangsa. Promoted by the International Monetary Fund, the World Bank and agencies like USAID, countries were urged to exploit their natural resources by developing resorts and hotels to attract foreign capital. Dipromosikan oleh International Monetary Fund, Bank Dunia dan lembaga-lembaga seperti USAID, negara-negara itu mendesak mereka untuk memanfaatkan sumber daya alam oleh pengembangan resort dan hotel untuk menarik modal asing. Part and parcel of the tourist attraction was sex. Bagian dan bingkisan dari tempat wisata itu seks. Package tours were developed to include airfare, accommodations, cars, and women or men for sexual pleasure. Paket wisata tersebut dikembangkan untuk menyertakan airfare, akomodasi, mobil, atau laki-laki dan perempuan untuk kenikmatan seksual. In Thailand, for instance, travel brochures promote "sun, sea, and sex." Di Thailand, misalnya, mempromosikan brosur perjalanan "matahari, laut, dan jenis kelamin." They build on the patriarchal and racist fantasies of European, Japanese, American, and Australian men by touting the exotic, erotic subservience of Asian women. Mereka membangun di patriarkhal dan racist fantasies Eropa, Jepang, Amerika, dan Australia touting oleh orang-orang yang eksotik, erotis sikap Asian perempuan.

"They [sex tours] offer meetings with the most beautiful and young Eastern creatures (age 16 to 24 years) in a soft and sexy surrounding and in the seductive and tropic night of the exotic paradise. You get the feeling that taking a girl here is as easy as buying a pack of cigarettes.Many of the girls in the sex world come from the poor northeastern region of the country or the slums of Bangkok. It has become more a habit that one of the nice looking daughters goes into the business. They have to earn money for the poor family. With this little slave you can do practically everything in the field of sex the whole night and you will not be disappointed with the girl. She gives real Thai warmth." "Mereka [wisata seks] menawarkan pertemuan dengan yang paling cantik dan muda makhluk Timur (usia 16 hingga 24 tahun) dalam lembut dan seksi dan sekitarnya yg menggairahkan di malam hari dan di daerah tropis yang eksotik surga. Anda akan mendapatkan rasa yang mengambil seorang gadis disini adalah semudah membeli satu pak cigarettes.Many dari jenis kelamin perempuan di dunia berasal dari keluarga miskin di wilayah timur laut negara atau kumuh di Bangkok. Hal ini telah menjadi satu kebiasaan yang lebih dari satu baik cari perempuan yang masuk ke dalam bisnis . Mereka harus mendapatkan uang untuk keluarga miskin. Dengan ini budak kecil yang dapat Anda lakukan di hampir semua bidang seks seluruh malam dan anda tidak akan kecewa dengan gadis. Dia memberi kehangatan Thai nyata. "

- Excerpts from a Dutch tourist pamphlet on sex tours in Thailand - Kutipan dari Belanda pada wisatawan Pamflet wisata seks di Thailand

The war in Vietnam brought a military buildup in Asia that ironically proved fortuitous to many countries' economies. Perang di Vietnam membawa buildup militer di Asia yang tak disengaja Ironisnya membuktikan ke banyak negara ekonomi. Korea, Vietnam, Thailand, the Philippines, and Okinawa built up a burgeoning sex industry outside the bases. Korea, Vietnam, Thailand, Filipina, dan Okinawa yang dibangun atas burgeoning industri seks di luar basis. Rest and recreation ("R & R") actually created new cities and added much-needed capital to the overall economy of each nation. Istirahat dan rekreasi ( "R & R") benar-benar baru dibuat kota dan ditambahkan sangat dibutuhkan untuk modal keseluruhan ekonomi dari masing-masing bangsa. It is estimated that by the mid-80s the sex industries around the bases in the Philippines had generated more than $500 million. Hal ini diperkirakan pada pertengahan 80s industri seks di sekitar basis di Filipina telah dihasilkan lebih dari $ 500 juta. At the end of the war in Vietnam, Saigon had 500,000 prostituted women - this is equal to the total population of Saigon before the war. Pada akhir perang di Vietnam, Saigon mempunyai 500.000 prostituted perempuan - ini adalah sama dengan jumlah penduduk Saigon sebelum perang.

Many of these countries developed policies and passed legislation to aid the sex business and "support the boys." Thailand, for example, passed the Entertainment Act, which included an incredible policy called "Hired Wife Services." Banyak dari negara-negara berkembang yang disahkan undang-undang dan kebijakan untuk membantu bisnis dan seks "mendukung anak laki-laki." Thailand, misalnya, lulus Hiburan Act, yang meliputi kebijakan luar biasa yang disebut "Hired Wife Services." By the mid-70s there were 800,000 prostituted Thai women. By the mid-70s terdapat 800.000 prostituted Thai perempuan.

Asian women were (and still are) looked upon as fragile, exotic, sexual flowers, there for men to do with as they wished. Men were convinced that practices that might be frowned upon or illegal in their own countries would be available in places like Bangkok and Manila. Asian perempuan (dan masih) memandang atas sebagai rentan, eksotik, seksual bunga, ada untuk laki-laki untuk melakukannya dengan karena hendak. Pria yang yakin bahwa praktek-praktek yang mungkin frowned upon atau melanggar hukum di negara mereka masing-masing akan tersedia di tempat-tempat seperti Bangkok dan Manila. This has become true for both heterosexual and homosexual men, for the sale of young boys is also big business. Hal ini menjadi kenyataan untuk kedua heteroseks dan homoseks laki-laki, untuk penjualan anak-anak juga berarti bisnis besar.

"If you want extremely young girls, or generally speaking, if you want something for which you could get 'hanged' in your own country, you can find it in these places without the risk of getting hanged. You can expect a nod of the head, the Asian clasp of the hands, all accompanied by a 'thank you.'" "Jika anda ingin sangat muda perempuan, atau umumnya, jika anda ingin sesuatu yang dapat 'digantun' di negara Anda sendiri, Anda dapat menemukannya di tempat ini tanpa risiko mendapatkan digantun. Anda bisa berharap dari sebuah angguk kepala, Asian gesper tangan, semua disertai dengan 'terima kasih'. "

- German tourist brochure on Thailand, 1983 - Jerman brosur wisata di Thailand, 1983

Tourists arrived by the thousands, bringing in the much-needed yen, marks, and dollars. Wisatawan tiba oleh ribuan, sehingga dalam banyak dibutuhkan yen, tanda, dan dolar. Almost 75 percent of the five million tourists who come to Thailand each year are males. Hampir 75 persen dari lima juta wisatawan yang datang ke Indonesia setiap tahun adalah laki-laki. Some companies go so far as to arrange special tours as incentives and rewards for their employees. Beberapa perusahaan pergi sejauh wisata khusus untuk mengatur dan insentif sebagai imbalan bagi karyawan. Tourism has emerged as the single largest foreign exchange earner in Nepal, Thailand, and the Philippines. Pariwisata telah muncul sebagai satu-satunya earner devisa terbesar di Nepal, Thailand dan Filipina. Men are guaranteed a good time and, to sweeten the deal, are given the impression that they are actually doing good deeds. Laki-laki dijamin bagus dan waktu, untuk gula yang menangani, akan memberi kesan bahwa mereka benar-benar melakukan perbuatan baik.

"When you screw here, you may not do it for Germany but you certainly do it for the welfare of Kenya." "Bila Anda screw disini, Anda tidak dapat melakukannya untuk Jerman tetapi Anda pasti melakukannya untuk kesejahteraan Kenya."

- German tourist - Jerman wisatawan

Tax-free zones, industrial zones, and capital growth centers are also becoming centers for trafficking.Bebas pajak zona, zona industri, dan pusat-pusat pertumbuhan modal juga untuk menjadi pusat perdagangan. One of the lures for businesses and for their employees is the promise of available women. Salah satu usaha untuk lures dan karyawannya adalah janji yang tersedia perempuan. The police and governments are completely complicit in the running of the sex trade. Polisi dan pemerintah sudah benar dalam menjalankan complicit dari perdagangan seks. Sexual services are provided on a regular basis to government officials to keep them in line. Seksual layanan diberikan secara berkala untuk pejabat pemerintah agar mereka sesuai. Government profits are so immense that they are loathe to complain anyway. Pemerintah sangat besar sekali keuntungan yang mereka benci untuk mengeluh anyway.

It's gotten to the point where entire villages in northern Thailand and southern Burma (see related article, page 25) are being decimated of girl children.It's gotten to the point di mana seluruh desa di utara dan selatan Thailand Burma (lihat artikel terkait, halaman 25) sedang decimated dari anak-anak gadis. In a strange twist parents welcome, for the first time, the birth of a girl child rather than that of a boy, because they know they have a guaranteed wage earner. Berliku-liku aneh dalam menyambut para orang tua, untuk pertama kalinya, kelahiran anak gadis yang bukan dari seorang anak laki-laki, karena mereka tahu bahwa mereka memiliki jaminan khadam. Most of these families feel they have no other choice than to give up some of their children. Sebagian besar keluarga mereka merasa tidak memiliki pilihan lain selain memberikan beberapa anak-anak mereka.

And the children are being sold at younger and younger ages.Dan anak-anak yang dijual di lebih muda dan lebih muda usia.

This is fueled both by the thrill of child sex and the fear of AIDS.Ini adalah kedua fueled oleh anak yang cemas dan takut AIDS. In many countries there is an age-old notion that virginity can cure venereal disease. Di banyak negara ada usia-tua bahwa keperawanan bisa menyembuhkan penyakit kelamin. This dovetails into the belief that the younger the child, the more likely he or she won't have slept with anyone and therefore won't be infected with AIDS. Dovetails ini ke dalam kepercayaan bahwa anak muda, semakin besar kemungkinan ia tidak akan tidur dengan siapapun dan karenanya tidak akan terkena AIDS. Thus girls and boys as young as eight years old are now being sought and provided throughout the world for their sexual services. Oleh karena itu sebagai anak laki-laki dan perempuan muda sebagai delapan tahun sedang dicari dan diberikan di seluruh dunia untuk layanan seksual mereka. Again, the numbers are horrifying. Lagi-lagi, nomor horrifying. It is estimated that there are 800,000 child prostitutes in Thailand, 400,000 in India, 250,000 in Brazil, and 60,000 in the Philippines. Hal ini diperkirakan terdapat 800.000 anak pelacur di Thailand, 400.000 di India, 250.000 di Brasil, dan 60.000 di Filipina. Twenty thousand young girls and boys are brought from Burma to Thailand each year. Dua puluh ribu anak perempuan dan anak laki-laki yang dibawa dari Burma ke Thailand setiap tahun.

Children are actually more prone to AIDS.Anak-anak sebenarnya lebih rentan terhadap AIDS. Their internal tissues of the vagina and anus are more delicate and tear more easily as a result of sexual intercourse (especially with adults). It is estimated that 20-30 percent of child prostitutes are HIV+. Fifty percent of the under-18 prostitutes in Thailand are thought to have contracted HIV. Internal jaringan mereka dari vagina dan anus yang lebih lembut dan lebih mudah robek sebagai akibat dari jimak (terutama dengan orang dewasa). Hal ini diperkirakan 20-30 persen dari anak pelacur yang HIV +. Lima puluh persen dari pelacur di bawah-18 di Thailand adalah pemikiran untuk kontrak HIV. In 1993 from a rare police raid of a brothel holding young Burmese women, 36 percent tested positive. When you extrapolate these numbers to the entire population, the number of women and men who will have AIDS by the year 2000 is in the millions. Pada tahun 1993 dari polisi jarang raid bordil yang memegang perempuan muda Burma, 36 persen diuji positif. Bila Anda meramalkan kemungkinan angka ini untuk seluruh penduduk, jumlah perempuan dan laki-laki yang akan AIDS pada tahun 2000 adalah dalam juta.

Trafficking is not only happening in the "under-developed nations."Perdagangan tidak hanya terjadi di "bawah-negara berkembang." It is now becoming common-place to see fathers from Eastern Europe bringing their young daughters to Western European cities. Sekarang menjadi tempat umum-untuk melihat bapak-bapak dari Eropa Timur membawa anak-anak perempuan mereka ke kota-kota Eropa Barat. Often these children are brutalized by the clients and are forced to seek medical help. Seringkali anak-anak ini adalah brutalized oleh klien dan dipaksa untuk mencari bantuan medis. As one doctor in the New York Times reported: Sebagai salah satu dokter di New York Times melaporkan:

"One father came with his 12-year-old daughter. She was terrorized and in terrible pain. I asked him why he did it. 'First of all we are very poor... she is still too young to get pregnant... she is very young... she will forget.'""Satu bapak datang dengan 12-year-old daughter. Dia terrorized dan terrible pain. Saya bertanya mengapa dia melakukan itu. Pertama-tama kami sangat miskin ... dia masih terlalu muda untuk hamil .. . ia sangat muda ... ia akan lupa. "

But she won't forget.Akan tetapi, dia tidak akan lupa. The psychological consequences of this mass brutalization of children are only beginning to be understood. As one social worker who works with former child prostitutes in Thailand put it, "They remind me of empty shells - so much missing, no sense of self, no hope, no trust. Only a deep hollow we need to fill." Psikologis yang konsekuensi dari massa brutalization ini hanya anak-anak mulai dipahami. Sebagai seorang pekerja sosial yang bekerja sama dengan mantan anak pelacur meletakkannya di Thailand, "Mereka mengingatkan saya tentang kosong kerang - begitu banyak yang hilang, tidak ada rasa sendiri, tidak ada harapan , tidak percaya. Hanya deep hollow kita perlu diisi. "

What is to be done?Apa yang harus dilakukan? Clearly the issues involved are both complex and overwhelming for they touch on one of the basic foundations around which society has been organized: the relationship between women and men. Jelas terlibat masalah yang kompleks dan besar baik bagi mereka menyentuh salah satu dari dasar yayasan masyarakat sekitar yang telah disusun: hubungan antara perempuan dan laki-laki. The notion of woman as object is not going to go away any time soon. Gagasan yang perempuan sebagai objek tidak akan pergi saja segera. Nor are millions of new jobs that could generate the same kind of money about to miraculously appear. Maupun yang jutaan pekerjaan baru yang dapat menghasilkan jenis yang sama tentang uang ke miraculously muncul.

Then too, there is the moral cloud that envelops the subject. Despite the periodic glamorization of the profession in movies and TV shows, prostitutes continue to be looked down upon as the scum of society, people who somehow deserve their fate.Kemudian juga ada awan moral yang envelops subjek. Meskipun periodik glamorization dari profesi di film dan TV menunjukkan, pelacur terus ke bawah akan tampak seperti buih kepada masyarakat, orang-orang yang entah bagaimana nasib mereka pantas. These women are objects of pity and disrespect. Perempuan ini adalah objek yang sayang dan disrespect. Prostitution is illegal in most places and it is the women who are punished and put into danger. Pelacuran adalah ilegal di sebagian besar tempat-tempat dan ia adalah perempuan yang dihukum dan dimasukkan ke dalam bahaya.

"Instead of punishing traffickers, the judge punished us.IThey want to prove that we are just prostitutes who have no dignity and that our words are not trustworthy. They believe that prostitutes cannot be victims of the slave trade because we have already sold our bodies.""Daripada keras traffickers, hakim dihukum us.IThey ingin membuktikan bahwa kita pelacur yang tidak memiliki martabat dan kata-kata yang kami tidak dapat dipercaya. Mereka percaya bahwa pelacur tidak dapat korban perdagangan budak karena kita sudah dijual tubuh kita . "

Although there is much debate within the feminist movement around the question of prostitution one thing should be perfectly clear.Walaupun terdapat banyak perdebatan di dalam gerakan feminis sekitar pertanyaan prostitusi satu hal yang harus jelas. Prostitutes are not criminals and they should not be penalized and jailed. Pelacur tidak kriminal dan mereka tidak boleh dikenakan sanksi dan yg dipenjarakan. Given the nature of trafficking, one cannot look at these jobs as ones of free choice. Mengingat sifat perdagangan, salah satu tidak dapat melihat ini sebagai pekerjaan yang bebas dari pilihan. Many women's organizations are even changing the nomenclature. Banyak organisasi perempuan bahkan mengubah tata nama. The term prostituted women highlights the aspect of coercion. Istilah prostituted perempuan menyoroti aspek kekerasan.

Hotlines, drop-in centers, and support programs are being run in countries throughout the world.Hotlines, drop-in center, dan mendukung program sedang berjalan di negara-negara di seluruh dunia. For instance, in Korea, My Sister's Place offers a refuge for women. Sebagai contoh, di Korea, My Sister's Place menawarkan perlindungan bagi perempuan. In the Philippines and Kenya several drop-in centers exist for prostitutes and entertainment girls. Di Filipina dan Kenya beberapa drop-ada di pusat-pusat hiburan bagi pelacur dan perempuan. Empowerment for these women is vital. Untuk pemberdayaan perempuan sangat penting. From Nepal to India to Peru to Nigeria, voices that have been silenced are beginning to be heard. Dari Nepal ke India ke Peru ke Indonesia, suara yang telah silenced adalah permulaan untuk didengarkan. They refuse to be victims or to be looked upon as such. Mereka menolak untuk menjadi korban atau menjadi seperti tampak atas. Women who have had no alternatives are developing livelihood projects and are seeking skills training. Wanita yang tidak memiliki mata pencaharian alternatif sedang mengembangkan proyek-proyek yang sedang mencari dan pelatihan keterampilan. The philosophy of the centers is to be non-judgmental, to give the women a chance to organize and discuss among themselves. Filosofi dari pusat yang akan non-judgmental, untuk memberikan kesempatan bagi perempuan kesempatan untuk mengatur dan mendiskusikan di antara mereka sendiri.

"We set no conditions for women to be accepted at the drop-in centers. They don't have to leave the bars and all possibilities are open. What matters is that they feel that they are accepted. Then the process begins so that they accept themselves, and see that they have capabilities for something else. So from personal guilt and hatred of themselves, they come to love themselves.""Kami tidak menetapkan kondisi bagi perempuan untuk dapat diterima di drop-in center. Mereka tidak perlu meninggalkan bar dan semua kemungkinan yang terbuka. Apa hal-hal yang mereka merasa bahwa mereka diterima. Kemudian proses dimulai, sehingga menerima diri, dan melihat bahwa mereka memiliki kemampuan untuk yang lain. Maka dari kesalahan pribadi dan kebencian mereka sendiri, mereka datang untuk mengasihi diri mereka sendiri. "

- Sister Sol Perpinan, Third World Movement Against Exploitation of Women- Sister Perpinan Sol, Dunia Ketiga Gerakan Eksploitasi Terhadap Perempuan

Women in Asia, Africa, and Latin America, as well as in Europe and North America, are discussing the issues of violence against women publicly and demanding that it be stopped.Perempuan di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, dan juga di Eropa dan Amerika Utara, yang membahas masalah kekerasan terhadap perempuan dan tuntutan publik yang akan dihentikan. During the Vienna Conference on Human Rights held in June of 1993, women organized a special tribunal to demand that women's basic rights be recognized as human rights. Selama Konferensi Wina tentang HAM yang diadakan pada bulan Juni 1993, perempuan menyelenggarakan sebuah pengadilan khusus untuk menuntut bahwa hak-hak dasar perempuan diakui sebagai hak asasi manusia. Rape was declared a war crime against women and humanity. Pemerkosaan telah menyatakan perang terhadap perempuan dan kejahatan kemanusiaan. Women also demanded an end to the trafficking of women and children. Perempuan juga menuntut diakhiri dengan perdagangan perempuan dan anak-anak.

"There is no international instrument in existence which explicitly stipulates that it is a human right to be free of sexual exploitation. Therefore, a new Convention must be promulgated. We introduce the new concept/definition of prostitution which is under the umbrella of sexual exploitation:"Tidak ada dalam keberadaan instrumen internasional yang secara eksplisit menegaskan bahwa hal itu adalah hak-hak asasi manusia untuk bebas dari eksploitasi seksual. Dengan demikian, Konvensi baru harus promulgated. Kami memperkenalkan konsep baru / definisi prostitusi yang berada di bawah payung dari eksploitasi seksual :

"Sexual exploitation is a violation of human dignity, therefore:"Eksploitasi seksual adalah pelanggaran terhadap martabat manusia, sehingga:

"It is a fundamental human right to be free from sexual exploitation in all of its forms. Sexual exploitation is a practice by which person(s) achieve sexual gratification or financial gain, or advancement through the abuse of a person's sexuality by abrogating that person's human right to dignity, equality, autonomy, and physical and mental well-being." "Ini merupakan hak dasar dari manusia untuk bebas dari eksploitasi seksual dalam semua bentuknya. Eksploitasi seksual adalah praktek yang oleh orang (s) mencapai kepuasan seksual atau memperoleh keuntungan finansial, kemajuan atau melalui penyalahgunaan seseorang seksualitas oleh orang yang abrogating hak untuk martabat manusia, kesetaraan, otonomi, dan fisik dan mental yang baik. "

- from Conventions presented to the tribunal in Vienna- Dari Konvensi kepada tribunal di Wina

In March 1994, 800 women from around the world met in New York to discuss preparations for the Fourth UN Conference on Women to be held in Beijing in 1995.Pada Maret 1994, 800 perempuan dari seluruh dunia bertemu di New York untuk membicarakan persiapan untuk Konferensi PBB Keempat tentang Perempuan yang akan diadakan di Beijing pada tahun 1995. As in Nairobi, two conferences will actually take place; the "official" one run by the governments and the more interesting and vital conference run by women's organizations and NGOs. Seperti halnya di Nairobi, dua konferensi akan benar-benar terjadi, yang "resmi" yang dijalankan oleh pemerintah dan yang lebih menarik dan penting konferensi dijalankan oleh organisasi perempuan dan LSM. When organizers pored through the official agenda, they found, much to their surprise and rage, that nothing focused on trafficking. Bila penyelenggara pored melalui agenda resmi, mereka menemukan, mereka banyak kejutan dan marah-marah, yang tidak terfokus pada perdagangan. As one Filipina organizer put it, "All they're interested in is economic development on a mega-level. They don't see that women's very human rights are involved. Trafficking is one of the most dire problems facing women today and it must be addressed and stopped." Filipina sebagai salah satu penyelenggara menaruhnya, "Semua mereka yang tertarik dalam pembangunan ekonomi pada tingkat mega. Mereka tidak melihat bahwa perempuan sangat terlibat HAM. Perdagangan adalah salah satu yang paling mengerikan menghadapi masalah perempuan hari ini dan ia harus diatasi dan dihentikan. "

In order to make this happen women are circulating petitions internationally demanding the inclusion of trafficking on the official agenda.Untuk membuat ini terjadi perempuan beredar petitions internasional yang menuntut masuknya perdagangan pada agenda resmi. They hope to get one million signatures by the summer. Mereka berharap untuk mendapatkan satu juta tanda tangan oleh panas.

It's not just the destruction of women and children's lives that makes this such an important issue; it's also what it does to all the cultures and societies where it takes place.It's not just the kebinasaan perempuan dan anak-anak yang membuat hidup ini menjadi isu penting, yang juga tidak apa untuk semua budaya dan masyarakat di mana berlangsung.

Throughout world history, patriarchy has valued women not as persons but as things, pieces of property to be bought and sold. Although this view was not held in all societies and at all times, it is common enough.Sepanjang sejarah dunia, telah patriarchy perempuan tidak dihargai sebagai orang tetapi sebagai sesuatu, buah dari properti yang akan dibeli dan dijual. Meskipun pandangan ini tidak dilaksanakan di semua masyarakat dan setiap saat, sekarang cukup umum.

However, it's also true that it has been women who have held communities together.Namun, itu benar juga bahwa telah ada wanita yang diselenggarakan masyarakat bersama-sama. It is through women that cultures are developed and passed down to the next generation. Adalah perempuan melalui budaya yang dikembangkan dan disampaikan ke generasi berikutnya.

So what are the implications when societies are literally stripped of so many of their women, when women's lives are reduced even further?Jadi apa implikasi ketika masyarakat adalah literal dipreteli sehingga banyak dari mereka perempuan, bila perempuan hidup adalah mengurangi bahkan lebih? (For the first time in 500 years, there are now more men than women in the Philippines.) The very fabric of life begins to disintegrate. (Untuk pertama kalinya dalam 500 tahun, kini terdapat lebih daripada laki-laki perempuan di Filipina.) Kain yang sangat hidup mulai meluruh. After a while it doesn't take much to sell the children as well. Setelah beberapa lama tidak mengambil banyak untuk menjual anak-anak juga.

By organizing against sex trafficking, women are confronting the view of themselves as objects and commodities and are saying Enough!Dengan mengatur perdagangan terhadap jenis kelamin, perempuan menghadapi pandangan mereka sendiri sebagai objek dan komoditas dan katakan Enough! And in doing so, they're beginning to unravel the historic intersection between capitalism and patriarchy, challenging the entire conception of people as things to be moved around or discarded according to the needs of the marketplace. Dan dalam melakukan demikian, maka sudah mulai terurai yang bersejarah persimpangan antara kapitalisme dan patriarchy, menantang seluruh konsep orang sebagai sesuatu yang akan dipindahkan sekitar atau dibuang sesuai dengan kebutuhan pasar. Sex trafficking exposes so much - the treatment of women, the intersection between racism and sexuality, the disparity between the North and South. Sex so much perdagangan exposes - perawatan perempuan, di persimpangan antara rasisme dan seksualitas, maka perbedaan antara Utara dan Selatan. That's why it's so important. That's why it's so penting. That's why the trafficking of women and children must be stopped. Itulah mengapa perdagangan perempuan dan anak-anak harus dihentikan.