Kamis, 16 April 2009

Kisah Inspiratif Dari Desa

Sebut saja namanya Bunga, belum genap 17 tahun. Ketika anak-anak Indonesia merayakan keriangan Hari Anak Nasional, Bunga justru bergelut dengan dingin menunggu panggilan. Padahal beberapa bulan yang lalu, dia masih bermain dengan teman sebaya di kampung halamannya di Kudus, Jawa Tengah setelah lulus dari sebuah SMP Negeri tidak jauh dari rumahnya. .... Ayah Bunga sudah lama meninggal, ibunya menikah lagi. Sang ibu meminta keponakannya yang bekerja di Jakarta agar mencarikan pekerjaan bagi Bunga. Melalui kenalan keponakannya, Bunga bekerja di sebuah panti pijat plus-plus tidak jauh dari Stasiun Kota, Jakarta Barat. Kini, hari-harinya dijalani dengan melayani pria hidung belang di panti pijat itu. "Sehari, paling tidak, empat tamu," ujarnya. (disarikan dari Koran Tempo, Kamis 24 Juli 2008 halaman B1). [thanks to paklik Mochammad Nadjib untuk artikel-nya :)]

masalah memang sudah sangat kompleks paklik ...tapi intinya ya masalah kemiskinan yang sudah menjadi endemi bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. modus pun gak jauh berbeda jika dibandingkan dengan daerah Indramayu yang sudah terkenal dengan [maaf] sebagai ''pemasok wanita muda''masalah ekonomi ... di desa susah mendapatkan uang-cash. panen (padi) pun harus menunggu sampe 3 bulan. itu pun kalo masih ada ''sisa'' setelah dikurangi oleh utang kepada oknum rentenir. Apakah di Kudus sudah itu ? Masih banyak petani kah ?

lepas dari itu, pergaulan yang sudah menggelobal. pengaruh film. dan yang paling parah ... para ''pedagang'' wanita muda sudah ''membuka cabang/agen'' sampe ke pelosok desa. dengan iming2 akan dijadikan penjaga toko, pelayan rumah makan dll. pekerjaan informal sudah banyak kita baca di media-massa. Bagaimana cara mencegah ini ?berantas kemiskinan, perangi kebodohan, seperti lagu yang sering muncul di TVRI jaman tahun 80-an. sayang sekali hanya lagu, pancen gak mudah ya, cuman saya secara pribadi juga gak punya cara yang ampuh dan jitu. hanya ada cara awam saja, mulai dari diri sendiri, mulai saat ini, mulai dengan yang sederhan/kecil dulu.prakrek-nya silakan dirancang sendiri-sendiri, hanya ada hal yang nampaknya bisa menjadi alternatif yaitu potensi zakat dan sodakoh dari warga Kudus (yang ada di Kudus maupun yang ada di luar Kudus). Misalkan saja 1 orang memberikan Rp 100,000 per bulan, dengan 500 orang Kudus, terkumpullah Rp 50juta per bulan. Itu bisa dijadikan sumber modal bergilir untuk usaha mikro yang mengelola ya kira-kira lembaga amil-zakat atau ke Baitul-Maal wataamwil yang ada di sana.

Mari kita peduli terhadap pemberantasan perdagangan wanita dengan membuat sebuah program yang dapat memberdayakan wanita-wanita di Indonesia. Posting kan ide-ide yang berguna untuk pemberdayaan wanita. Jika kita tidak bisa mengimplementasikannya, pasti akan ada orang lain yang bisa.

Semoga Tuhan selalu menyertai..

0 komentar:

Poskan Komentar